Dalam antologi puisi panjangnya, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people" />
www.surarafakta.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara
 
Etika Islam dalam Menggunakan Media Sosial
Jumat, 29-09-2017 - 10:18:52 WIB
Ilustrasi.
TERKAIT:
 
  • Etika Islam dalam Menggunakan Media Sosial
  •  

    Suarafakta.com - Dalam antologi puisi panjangnya, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran (sekarang, media online).”

    Ya, kucing hidup tanpa perlu mengkhawatirkan fitnah dan hoaks. Mereka tidak perlu memahami besarnya pengaruh fitnah dan hoax atas pribadi seseorang dan lingkungan tertentu; mereka tidak perlu memahami kejamnya pembunuhan karakter dan ujaran kebencian. Asal perut kenyang, mereka bahagia. Sederhana saja.

    Sekarang ini hoax telah dibudidayakan seperti hewan ternak, tersebar dimana-mana dan disebarkan oleh siapa saja. Daya kritis manusia dalam memahami berita seakan mati rasa. Apapun yang dibaca, jika sesuai dengan selera, dimakan mentah-mentah dan dipercaya. Jika tidak sesuai dengan selera, langsung divonis sebagai berita bohong.

    Ini masalah serius. Melihat berita dengan ‘selera’ telah menghalangi terciptanya kultur tabayyun (konfirmasi informasi) di masyarakat kita. Pemilahan berita tidak berdasarkan fakta jurnalistik. Selama berita itu sesuai dengan ‘selera’, kita akan menyebarkannya kemana-mana, melalui media sosial (medsos) yang telah hampir dipakai seluruh penduduk Indonesia.Lalu, bagaimana agama menyikapi hal ini?

    Sikap agama jelas, tidak ada ruang untuk kebohongan (hoaks) dalam agama. Anehnya, ada orang yang mengatakan, penyebaran hoaks adalah bentuk kepasrahan kepada Allah, dalam arti berjuang di jalanNya. Ada pula yang menganggap wajar penambahan sebuah berita, apalagi jika berhubungan dengan agama. Ini adalah hal yang benar-benar aneh.

    Dalam tradisi Islam, terdapat disiplin ilmu musthalah al-hadîts. Saya tidak akan membicarakan panjang lebarilmu tersebut. Saya hanya ingin mengatakan, dalam memahami berita umat Islam seharusnya mengacu pada ilmu tersebut. Tidak mudah mengambil kesimpulan dan harus melakukan kroscek kritis dari mulai sumber berita, siapa yang memberitakannya sampai proses pengikisan penambahan berita bohong yang menyertainya.

    Imam al-Syâfi’i dalam al-Risâlah menyebutnya sebagai al-kadzib al-khafi (kebohongan yang halus), yaitu “dzalika al-hadîts ‘an man lâ yu’rafu sidquhu—menyebarkan hadits dari orang yang tidak diketahui kejujurannya.” (Muhammad bin Idrîs al-Syâfi’i, al-Risâlah, hlm 401).

    Artinya, sebelum benar-benar mengetahui kejujuran orang yang memberitakannya secara langsung dan meneliti secara kritis sumber berita tersebut, kita sebaiknya menahan diri untuk menyebarkannya. Jika berita itu benar, kita tidak mendapatkan dosa. Jika berita itu bohong, kita telah turut serta dalam menyebarkan fitnah.

    Di era berkemajuan ini, media telah membawa zaman ke arah ‘mediakrasi’, sehingga propaganda disebut pengetahuan dan gosip disebut berita. Setiap hari kita disuguhi berita-berita semacam itu. Efeknya, cara pandang kita terhadap dunia perlahan-lahan bergeser, dari justifikasi logis-kritis menjadi justifikasi propagandis, meski bisa dikatakan tidak semua orang termakan oleh hal itu.

    Bagaimana dengan penyebaran berita hoax sebagai bentuk syiar agama? Jawabannya sama, ketika berkaitan dengan fitnah (pembunuhan karakter) agama tidak memberikan ruang, dengan alasan apapun, “al-fitnah asyaddu min al-qatl—fitnah lebih jahat dari pembunuhan.”


    Bahkan, jika kita perluas kajiannya, Nabi Ibrahim pernah berbohong ketika diajak kaumnya untuk menyembah berhala, Ia mengatakan(Q.S. al-Shaffat [37]: 89): “fa qâla innî saqîm—sesungguhnya aku sakit. ”Kebohongan itu menjadi penghalang dirinya memberi syafaat di hari akhir. Ketika sekumpulan orang mendatanginya untuk meminta syafaat, Ia menjawab:

    “Sungguh Tuhanku, hari ini, telah murka (kepadaku) dengan kemurkaan yang belum ada misal sebelumnya, sesungguhnya aku telah berdusta tiga kali...” (H.R. Imam Bukhari).

    Perbedaannya adalah, tidak ada unsur fitnah ataupun pembunuhan karakter dalam kebohongan Nabi Ibrahim. Tidak ada pribadi yang dirugikan. Meski demikian, Allah tetap menganggapnya sebagai dusta, sehingga Nabi Ibrahim tidak memiliki hak memberi syafaat kepada umatnya, seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Manusia pilihan yang tidak pernah berbohong sekalipun.

    Lah kita, tidak memiliki kemaksuman seperti Nabi Ibrahim, tidak memiliki amal ibadah seperti Nabi Ibrahim. Tanpa pertimbangan yang matang, dengan berani menyebarkan berita bohong atau membuatnya. Andai amal Nabi Ibrahim adalah gunung, satu kerikilnya saja masih terlalu besar untuk dibandingkan dengan amal yang kita kumpulkan sampai mati.

    Kita harus berhati-hati dalam membaca berita. Lakukan critical analysis (al-tahlîl al-naqdlî, analisa kritis), penyelusuran sumber (takhrîj dan kritik sanad) dan evaluasi konten berita (kritik matan). Jangan dimakan mentah-mentah dan disebarkan begitu saja. Pembacaan kritis ini sangat diperlukan agar terhindar dari budidaya fitnah dalam bentuk berita. Sebaik-baik berita yang kita baca, lebih baik berita yang kita dengar dan lihat secara langsung, sami’nâ wa atha’nâ.

    Saya menutupnya dengan perkataan Mark Twain (1835-1910): “If you don’t read the newspaper, you’re uninformed. If you read the newspaper, you’re mis-informed—jika kau tidak membaca koran (sekarang media online), kau kurang informasi. Jika kau membacanya, kau mendapatkan informasi yang salah. ”Semoga kita bisa menghindarinya. Wallahu a’lam. (NU Online)



     
    Berita Lainnya :
  • Etika Islam dalam Menggunakan Media Sosial
  •  
    Komentar Anda :

     
    dan target=_blank>
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Ketahuan ! Dua Anggota Militer Amerika Menyusup di Upacara HUT TNI, Mata-mata?
    2 Kisah Sedih Wiwit Dikubur Bersama Gaun dan Perlengkapan Pre-wedding
    3 Dua Pengawal Presiden Jokowi Ditikam Orang Tak Dikenal di Gambir
    4 Tragis Ibu Muda Ini Bawa Jasad Bayinya Usai Diperkosa di Angkutan oleh Tiga Pria
    5 Geger Tabungan Siswi SMP Rp 42 Juta, Sekolah Hanya Akui Rp 135 Ribu
    6 Seleb
    Bangkrut Hingga Harus Jualan Bubur, Norman Kamaru Kini Ketiban Rezeki Nomplok
    7 Selingkuh di Hotel, Personil Polres Kuansing Digerebek Propam Polda Riau
    8 Heboh...!!! Siswi SMP Diperkosa 5 Temannya Di Dalam Kelas
    9 Remaja 16 Tahun Nikahi Nenek 71 Tahun, Begini Malam Pertamanya
    10 Begini Malam Pertama Pengantin Remaja 16 Tahun dengan Nenek 71, Gubernur Alex Pun Berkomentar
     
    Galeri Foto - Advertorial - Pariwara
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016 PT. BINTANG GRAFIKA PERS, All Rights Reserved
    handbags replicawatches replica